Minggu, 23 Mei 2010

ISIM BERDASARKAN BILANGANNYA

PEMBAGIAN ISIM BEDASARKAN BILANGANNYA

Sebelum kita membahas pembagian isim berdasarkan bilangannya kita perlu mengenal terlebih dahulu beberapa istilah yang akan digunakan yaitu :

Tunggal مُفْرَد

تَثْنِيَّه Ganda

جَمَع Jamak

1. ISIM MUFROD

Adalah isim yang menunjukkan arti tunggal baik pada mudzakar maupun muannast.

Contoh : أُسْتَاذٌُ ( Pak guru), أُسْتَاذَةٌُ (Bu guru),

مٌُسْلِمٌ ( Seorang islam laki-laki), مٌُسْلِمَةٌُ (Seorang islam perempuan)

2. ISIM TASTNIYAH

Adalah isim yang menunjukkan arti dua baik pada mudzakar maupun muannast.

Contoh : أُسْتَاذَانِ, اُسْتاَذَيْنِ ( dua orang guru laki-laki)

أُسْتَاذَتاَنِ, أُسْتَاذَتَيْن ِ ( dua orang guru perempuan)

Catatan : Pada contoh diatas isim tastniyah yang menggunakan ن + ا adalah apabila dibaca rofa’, sedangkan yang menggunakan ن + ي adalah apabila dibaca nashob dan jer.

Penjelasan mengenai Rofa’, Nashob dan Jer akan dibahas pada bab I’rab.

3. ISIM JAMAK

Adalah isim yang menunjukkan arti jamak baik pada mudzakar maupun muannast.

Isim jamak berdasarkan keteraturan bentuknya terbagi menjadi 2 yaitu :

a. Isim Jamak Taksir

Adalah isim jamak yang berubah dari bentuk mufrodnya dengan perubahan yang tidak beraturan sehingga perlu dihafal.

Contoh : : بُيُوْتٌُ Rumah-rumah, bentuk tunggalnya بَيْتٌُ

رُسُلٌُ Rosul-rosul, bentuk tunggalnya رَسُوْلٌُ

b. Isim Jamak salim

Adalah isim jamak yang berbah dari bentuk mufrodnya dengan perubahan yang teratur.

Sehingga ada 2 macam isim jamak salim :

Isim Jamak Mudzakar Salim

Isim jamak salim yang menunjukkan arti laki-laki.

Ciri-cirinya adalah adanya tambahan ن+ و dan ن + ي pada bentuk mufrodnya

Contoh : مُسْلِمُوْن , مُسْلِمِيْنَ ( Orang-orang islam laki-laki)

Catatan : Pada Contoh isim jamak mudzakar salim dengan memakai ن+ و adalah pada saat dibaca rofa’, sedangkan dengan memakai ن + ي adalah pada saat dibaca nashob dan jerr.

Isim Jamak Muannast Salim

Isim jamak salim yang menunjukkan arti perempuan.

Ciri-cirinya adalah adanya tambahan ت + ا pada bentuk mufrodnya.

Contoh : مُسْلِماَت ( Orang-orang islam prempuan)

مُؤْمِناَت (Oarang-orang mukmin perempuan)

ISIM BERDASARKAN JENISNYA

PEMBAGIAN ISIM BEDASARKAN JENISNYA

Berdasarkan jenisnya kata benda dapat dibedakan menjadi kata benda jenis laki-laki dan kata benda jenis perempuan. Pembagian kata benda berdasarka jenis dalam bahasa arab adalah sangat penting karena hal ini akan menyangkut pada pemakaian dhomir (kata ganti) dan juga pemakaian fi’il (kata kerja). Seperti contoh :

هُوَ طَبِيْبٌُ Dia adalah dokter (laki-laki) هِيَ طَبِيْبَةٌُ Dia adalah dokter (perempuan)

جاَءَ مُحَمَّدٌُ Muhammad telah datang جاَءَتْ هِنْدٌُ Hindun telah datang

Pada contoh diatas : طَبِيْبٌُ adalah isim mudzakar (kata benda jenis laki-laki) sehingga kata ganti yang digunakan juga harus berjenis laki-laki yaitu هُوَ (He). Pada contoh ke-2 طَبِيْبَةٌُ adalah isim muannast (kata benda jenis perempuan) sehingga kata ganti yang digunakan juga harus berjenis perempuan yaitu هِيََ (She).

مُحَمَّدٌُ adalah isim mudazakar sehingga fi’il (kata kerja) yang digunakan juga harus mudzakar. Begitu juga dengan هِنْدٌُ adalah isim muannast sehingga menggunakan fi’il muannast.

Sebelum kita membahas pembagian isim (kata benda ) berdasarkan jenisnya ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu bebrapa istilah yang akan digunakan :

مُذَكَر = Laki-laki

مُؤَنّث = Perempuan

1. ISIM MUDZAKAR

Adalah kata benda yang menunjukkan arti laki-laki baik manusia, hewan ataupun benda mati yang dikategorikan sebagai mudzakar.

Contoh : اَلرَّجُلُSeorang laki-laki, مُحَمّدٌُ Muhammad,

اَلْمِصْباحُ Lentera (adalah contoh benda mati yang dikategorikan sebagai mudzakar.)


2. ISIM MUANNATS

Adalah kata benda yang menunjukkan arti perempuan baik manusia, hewan ataupun benda mati yang dikategorikan sebagai muannast.

Contoh : عَائِشَةُ ‘Aisyah,الدَّجَاجَةُ Ayam betina

الشَّمْسُ Matahari (adalah contoh benda mati yang dikategorikan sebagai muannast)

Ada beberapa cara membedakan isim mudzakar dengan isim muannast yaitu :

1. Dengan membedakan jenis kelaminnya.

Contoh : Mudzakar اَلرَّجُلُ Seorang laki-laki,الدِّيْكُAyam jantan

Muannast الْمَرْأَةُ Seorang perempuan,

الدَّجَاجَة Ayam betina

2. Dengan pengelompokan secara bahasa

Isim muannast biasa memiliki cirri-ciri sebagai berikut :

a. Diakhiri denga ta marbuthoh (ة)

Contoh : خَدِيْجَةُ Khodijah, مَدْرَسَة ُ Sekolah, الشَّجَرَة Pohon

b. Anggota tubuh yang berpasang-pasang

Contoh : عَيْنٌُ Mata

يَدٌُ Tangan

c. Jamak Taksir : jamak taksir dikategorikan sebagai muannast ( jamak taksir akan dibahas tersendiri pada bab Isim Jamak)

Contoh : بُيُوْتٌُ Rumah-rumah, bentuk tunggalnya بَيْتٌُ

رُسُلٌُ Rosul-rosul, bentuk tunggalnya رَسُوْلٌُ

Walaupun رُسُلٌُ adalah isim yang jelas mudzakar, tetapi karena ia berbentuk jamak taksir maka dapat dimasukkan dalam kategori muannast.

Selain yang disebutkan diatas adalah termasuk mudzakar.

Jumat, 21 Mei 2010

Ciri-Ciri Isim

CIRI- CIRI ISIM
ISIM (KATA BENDA)
Isim adalah kata benda atau suatu kata yang tidak memiliki waktu.
Contoh : مُحَمَّدٌُ (muhammad), مَدْرَسَةٌُ (sekolah)
Bagaimana cara mengidentifikasi isim (kata benda) dalam bahasa arab…??


Berikut adalah ciri-cirinya :
1. Bisa menerima tanwin seperti contoh diatas.
2. Bisa menerima( ا ل )
Contoh : النُّوْرُ (Cahaya), السَّمَآءِ (Langit)
3. Bisa menerima huruf jerr
Huruf jer yang biasa kita jumpai diantaranya adalah:
مِنْ ( dari) الي (ke) عَنْ (dari) عَلي (diatas) فِي (didalam) ب (dengan)
ل (bagi) ك (seperti)
Contoh : مِنَ السَّمَآءِ (dari langit) السَّمَآءِ adalah merupakan isim dan karenanya ia bisa dimasuki huruf jer yaitu مِنْ
4. Bisa bersambung dengan isim lain membentuk kata majemuk.
Contoh : نَصْرُللهِ (pertolongan Allah ). Merupakan 2 buah buah isim yang digabung menjadi satu dan menghasilkan satu makna.

Catatan :
Tanwin dan Alif Lam merupakn tanda isim, tetapi keduanya tidak dapat berada pada satu isim secara bersamaan.
Contoh : نُوْرٌ ketika dimasuki alif lam akan menjadi اَلنّوْرُ (tanwin-nya hilang).

Mengenai perbedaan antara isim yang bertanwin dan yang ber- ال akan dibahas pada bab isim nakiroh (kata benda umum) dan isim ma’rifat (kata benda khusus)

Berapa jumlah isim pada kalimat atau ayat dibawah ini ….???
Sebutkan beserta tanda-nya


وَبَشِّرِ الَّذِيْ ءَامَنُوْا وَعَمِلُوْا الصّلِحات
وَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً
فَيَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ
لَهُمْ دَرَجَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَ رِزْقٌ كَرِيْمٌ

Pengenalan Ilmu Shorof

SHOROF
A. Definisi
Adalah ilmu yang mempelajari tentang perubahan kalimah (kata) ‘arobiyah mulai dari bentuk yang satu kepada bentuk yang lain untuk menghasilkan makna yang dikehendaki. Kalau dalam bahasa Indonesia bisa di analogikan dengan perubahan kata makan menjadi makanan, telah makan, sedang makan, akan makan, dimakan dll.

Ilmu Sharaf adalah salah satu dasar ilmu yang penting dalam mempelajari Bahasa Arab. Dengan Sharaf kita bisa tahu dari mana suatu kata berasal. Sulit dicari padanan definisi shorof dalam bahasa Indonesia. Yang jelas, Sharaf adalah ilmu tentang perubahan kata dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Jika dalam Bahasa Inggris kita akan menemukan contoh berikut:

do – did – done
go – went – gone

B. Istilah - istilah Dasar
Sebelum kita memulai, ada baiknya kita mengenal istilah-istilah dasar yang perlu diketahui dalam ilmu shorof.

1. Tashrif
Perubahan kata dari kata dasar fi’il madhi (kata kerja lampau) menjadi bentuk-bentuk yang lain.
Secara umum suatu kata dapat berubah sebagai berikut:
1. Fi'il Madhi (kata kerja lampau, past tense)-biasa disebut sebagai kata dasar
2. Fi'il Mudhari (kata kerja sekarang, present continuous tense)
3. Mashdar (Gerund)
4. Isim Faa'il (subjek, pelaku)
5. Isim Maf'ul (objek)
6. Fi'il Amar (kata kerja perintah)
7. Fi'il Nahiy (kata kerja larangan)
8. Isim Zaman (nama waktu), Isim Makan (nama tempat), Isim Alat (nama alat).
Untuk yang ke-delapan ini merupakan bentuk tashrif yang jarang ditemui, karena penggunaannya tergantung dari penggunaannya dikalangan orang Arab, dan ini tidak akan kita bahas di sini.

2. وزن (Wazan /rumus)
Wazan merupakan suatu rumus baku, dimana perubahan setiap kata akan didasarkan pada rumus tersebut.
Wazan biasanya menggunakan kata فَعَلَ
Lantas apa perbedaan antara tashrif dan wazan?
Tahsrif itu perubahannya sedangkan wazan adalah rumusnya.

3. مَوْزُنْ Mauzun
Mauzun adalah kata yang di ikutkan pada wazan.
Contoh : نَصَرَ merupakan mauzun yang mengikuti wazan فَعَلَ

4. Shighot
Shighot adalah nama dari setiap kata yang berubah. Jadi fi’il madhi, fi’il mudhori’, isim masdar dan seterusnya adalah merupakan jenis-jenis shighot.
فَعَلَ fi’il Madhi
يَفْعُلُ fi’il Mudhori’

6. Tashrif Isthilah
Adalah perubahan kalimat berdasarkan shighotnya atau biasa didefinisikan sebagai tashrif mendatar karena tertera mendatar pada kitab tashrif.

7. Tashrif Lughowi
Adalah perubahan kalimat berdasarkan pelakunya. Ada 14 macam kata ganti dalam bahasa arab sehingga ada 14 macam perubahan kata berdasarkan tashrif lughowi. Perlu diingat bahwa yang dapat ditashrif secara lughowi hanyalah fi’il (kata kerja) karena hanya kata kerja yang memiliki pelalu /subyek.

Nahwu, Shorof dan I'lal.

Dalam mempelajari bahasa arab terdapat 3 materi pokok yang saling terkait yaitu :
1. Nahwu ( Grammar) : Dalam nahwu kita akan belajar bentuk-bentuk kalimah (kata) ‘arabiyah serta perubahannya ketika dalam bentuk asal maupun ketika terangkai dalam suatu kalimat. Bagaimana suatu kata yang tadinya berharokat dhommah pada saat berfungsi sebagai fa’il (subyek) akan berubah harokatnya menjadi fatah saat kita jadikan sebagai maf’ul bih (obyek). Seperti akan dibahas pula jumlah ismiyah (kalimat yang diawali dengan kata benda) maupun jumlah fi’liyah (kalimat yang diawali dengan kata kerja).Bagaimana bentuk kata kerja aktif dan kata kerja pasif serta masih ada beberapa bab lain yang cukup menarik untuk dipelajari. Kitab nahwu yang paling sering dijadikan padoman dalam pembelajaran bahasa arab adalah kitab jurumiyah.

2. Shorof : Adalah ilmu yang mempelajari tentang perubahan kalimah (kata) ‘arobiyah mulai dari macam yang satu kepada macam yang lain untuk menghasilkan makna yang dikehendaki. Kalau dalam bahasa Indonesia bisa di analogikan dengan perubahan kata makan menjadi makanan, telah makan, sedang makan, akan makan, atau dimakan dll. Kitab Shorof yang biasa digunakan adalah kitab Amtsilatut Tashrifiyah. Kitab ini kecil dan praktis untuk dipelajari karena disajikan dalam bentuk yang sistematis. Namun dalam belajar ilmu shorof diperlukan sedikit keuletan karena didalamnya cukup banyak yang harus dihafal.

3. I’lal : Dalam aturan penulisan kalimah (kata) ‘arabiyah terdapat beberapa aturan atau kaidah yang harus kita taati. Sehingga seringkali kita akan menjumpai suatu kalimah yang ditulis berbeda dengan yang seharusnya tertulis. Seperti contoh kita sering menjumpai kata Qaala (telah berkata), sebenarnya kata Qaala itu ditulisnya Qawala karena ia adalah fi’il (kata kerja) yang terdiri dari 3 huruf yaitu Qof, wawu dan lam. Akan tetapi wawu harus diganti dengan alif karena berdasarkan kaidah I’lal pertama yang berbunyi “ apabila ada wawu berharokat jatuh setelahnya fatah maka wawu tersebut harus diganti dengan alif” Sehingga kata Qawala berubah menjadi Qaala. Kaidah yang tersebut diatas adalah salah satu contoh kaidah I’lal yang dapat dipelajari dalam kitab Qowa’idul I’lal.

Sebaiknya baik nahwu, shorof maupun I’lal harus kita pelajari secara bersama. Karena ilmu yang satu bersifat mendukung ilmu yang lain.

Insya Allah dalam blog ini kita akan mencoba untuk berdiskusi tentang ke-3 materi diatas. Oleh karena itu saran, kritik membangun serta sharing ilmu dari tema2 sangat kami harapkan.

Kamis, 20 Mei 2010

Pentingnya Belajar Bahasa Arab

PENTINGNYA BELAJAR BAHASA ARAB
Sebagian orang menganggap bahwa belajar ilmu tata bahasa arab sangat sulit, rumit, membosankan, membutuhkan waktu yang lama dalam mempelajarinya, dan hanya orang yang belajar di pondok pesantren saja yang sanggup menguasainya. Benarkah demikian...?

Imam Asy-Syafi’i mengatakan, Manusia menjadi buta agama, bodoh dan selalu berselisih paham lantaran mereka meninggalkan bahasa Arab, dan lebih mengutamakan konsep Aristoteles. (Siyaru A’lamin Nubala, 10/74.)
Itulah ungkapan Imam Syafi’i buat umat, agar kita jangan memarginalkan bahasa kebanggaan umat Islam. Seandainya sang imam menyaksikan sikap umat sekarang ini terhadap bahasa Arab, tentulah keprihatinan beliau akan semakin memuncak.
Bahasa Arab berbeda dengan bahasa-bahasa lain yang menjadi alat komunikasi di kalangan umat manusia. Ragam keunggulan bahasa Arab begitu banyak. Idealnya, umat Islam mencurahkan perhatiannya terhadap bahasa ini. Baik dengan mempelajarinya untuk diri mereka sendiri ataupun memfasilitasi dan mengarahkan anak-anak untuk tujuan tersebut.
Di masa lampau, bahasa Arab sangat mendapatkan tempat di hati kaum muslimin. Ulama dan bahkan para khalifah tidak melihatnya dengan sebelah mata. Fashahah (kebenaran dalam berbahasa) dan ketajaman lidah dalam berbahasa menjadi salah satu indikasi keberhasilan orang tua dalam mendidik anaknya saat masa kecil.
Redupnya perhatian terhadap bahasa Arab nampak ketika penyebaran Islam sudah memasuki negara-negara ‘ajam (non Arab). Antar ras saling berinteraksi dan bersatu di bawah payung Islam. Kesalahan ejaan semakin dominan dalam perbincangan. Apalagi bila dicermati realita umat Islam sekarang pada umumnya, banyak yang menganaktirikan bahasa Arab. Yang cukup memprihatinkan, para orang tua kurang mendorong anak-anaknya agar dapat menekuni bahasa Arab ini.
Keistimewaan Bahasa Arab
1. Bahasa Arab adalah bahasa Al Quran.
Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan Al-Quran dalam bahasa Arab, supaya kalian memahaminya.” (QS. Az Zukhruf: 3)
2. Bahasa Arab adalah bahasa Nabi Muhammad dan bahasa verbal para sahabat.
Hadits-hadits Nabi yang sampai kepada kita dengan berbahasa Arab. Demikian juga kitab-kitab fikih, tertulis dengan bahasa ini. Oleh karena itu, penguasaan bahasa Arab menjadi pintu gerbang dalam memahaminya.
3. Susunan kata bahasa Arab tidak banyak.
Kebanyakan terdiri atas susunan tiga huruf saja. Ini akan mempermudah pemahaman dan pengucapannya.
4. Indahnya kosakata Arab.
Orang yang mencermati ungkapan dan kalimat dalam bahasa Arab, ia akan merasakan sebuah ungkapan yang indah dan gamblang, tersusun dengan kata-kata yang ringkas dan padat.

Petunjuk Urgensi Belajar Bahasa Arab
1. Teguran Keras Terhadap Kekeliruan Dalam Berbahasa
Berbahasa yang baik dan benar sudah menjadi tradisi generasi Salaf. Oleh karena itu, kekeliruan dalam pengucapan ataupun ungkapan yang tidak seirama dengan kaidah bakunya dianggap sebagai cacat, yang mengurangi martabat di mata orang banyak. Apalagi bila hal itu terjadi pada orang yang terpandang.
Ibnul Anbari menyatakan: “Bagaimana mungkin perkataan yang keliru dianggap baik…? Bangsa Arab sangat menyukai orang yang berbahasa baik dan benar, mereka memandang orang-orang yang keliru dengan sebelah mata dan menyingkirkan mereka”.
Umar bin Khaththab pernah mengomentari cara memanah beberapa orang dengan berucap: “Alangkah buruk bidikan panah kalian”. Mereka menjawab, “Nahnu qawmun muta’alimiina (kami adalah para pemula)”, (Seharusnya: Nahnu Qawmun Muta’alimuuna - mereka salah dalam bahasa -ed) maka Umar berkata, “Kesalahan berbahasa kalian lebih fatal menurutku daripada buruknya bidikan kalian…” (Al Malahin, karya Ibnu Duraid Al Azdi, hlm. 72)
2. Perhatian Salaf Terhadap Bahasa Arab
Umar bin Khaththab pernah menulis surat kepada Abu Musa yang berisi pesan: “Amma ba’du, pahamilah sunnah dan pelajarilah bahasa Arab”.
Pada kesempatan lain, beliau mengatakan: “Semoga Allah merahmati orang yang meluruskan lisannya (dengan belajar bahasa Arab)”.
Pada kesempatan lain lagi, beliau menyatakan: “Pelajarilah agama, dan ibadah yang baik, serta dalamilah bahasa Arab”.
Beliau juga mengatakan: “Pelajarilah bahasa Arab, sebab ia mampu menguatkan akal dan menambah kehormatan”. (Tarikh Umar bin Khathab, karya Ibnul Jauzi, 225)
Para ulama tidak mengecilkan arti bahasa Arab. Mereka tetap memberikan perhatian yang besar dalam menekuninya, layaknya ilmu syar’i lainnya. Sebab bahasa Arab adalah perangkat dan sarana untuk memahami ilmu syariat.
Imam Syafi’i pernah berkata: “Aku tinggal di pedesaan selama dua puluh tahun. Aku pelajari syair-syair dan bahasa mereka. Aku menghafal Al Qur’an. Tidak pernah ada satu kata yang lewat olehku, kecuali aku memahami maknanya”.
Imam Syafi’i telah mencapai puncak dalam penguasaan bahasa Arab, sehingga dijuluki sebagai orang Quraisy yang paling fasih pada masanya. Dia termasuk yang menjadi rujukan bahasa Arab.
Ibnul Qayyim juga dikenal memiliki perhatian yang kuat terhadap bahasa Arab. Beliau mempelajari dari kitab Al Mulakhkhash karya Abul Baqa’, Al Jurjaniyah, Alfiyah Ibni Malik, Al Kafiyah Asy Syafiah dan At Tashil, Ibnul Fathi Al Ba’li. Beliau juga belajar dari Ali bin Majd At Tusi.
Ulama lain yang terkenal memiliki perhatian yang besar terhadap bahasa Arab adalah Imam Syaukani. Ulama ini menimba ilmu nahwu dan sharaf dari tiga ulama sekaligus, yaitu: Sayyid Isma’il bin Al Hasan, ‘Allamah Abdullah bin Ismail An Nahmi, dan ‘Allamah Qasim bin Muhammad Al Khaulani.
3. Anak-Anak Khalifah Juga Belajar Bahasa Arab
Para khalifah, dahulu juga memberikan perhatian besar terhadap bahasa Arab. Selain mengajarkan pada anak-anak dengan ilmu-ilmu agama, mereka juga memberikan jadwal khusus untuk memperdalam bahasa Arab dan sastranya. Motivasi mereka, lantaran mengetahui nilai positif bahasa Arab terhadap gaya ucapan mereka, penanaman budi pekerti, perbaikan ungkapan dalam berbicara, modal dasar mempelajari Islam dari referensinya. Oleh karena itu, ulama bahasa Arab juga memiliki kedudukan dalam pemerintahan dan dekat dengan para khalifah. Para pakar bahasa menjadi guru untuk anak-anak khalifah.
Al Ahmar An Nahwi berkata, “Aku diperintahkan Ar Rasyid untuk mengajarkan sastra Arab kepada anaknya, Muhammad Al Amin. Al Makmun dan Al Amin juga pernah dididik pakar bahasa yang bernama Abul Hasan ‘Ali bin Hamzah Al Kisai yang menjadi orang dekat Khalifah. Demikian juga pakar bahasa lain yang dikenal dengan Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin As Sari mengajari anak-anak Khalifah AlMu’tadhid pelajaran bahasa Arab. Juga Abu Qadim Abu Ja’far Muhammad bin Qadim mengajari Al Mu’taz sebelum memegang tampuk pemerintahan”.
Bahasa Arab adalah bahasa yang terbaik di dunia, karena Allah memilihnya menjadi bahasa yang digunakan di dalam kitab-Nya yang mulia. Selain itu, bahasa Arab memang memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pendidikan. Terutama dalam memahami Islam dengan baik dan benar. Hendaknya kaum muslimin bersemangat dalam mempelajarinya. Semoga saja.


Diangkat dari Al Atsaru At Tarbawiyah Li Dirasati Al Lughah Al ‘Arabiyyah, karya Dr. Khalid bin Hamid Al Hazimi, dosen Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah. Majalah jami’ah Islamiyyah, edisi 125 Th. 1424 H. Disalin dari Majalah As-Sunnah edisi 02/IX/1426H, Rubrik Baituna, hal. 05 - 08.